Ada masanya saat saya merasa tak punya nilai yang memukau di mata netizen, setiap kali melihat jumlah like yang saya dapati saat mengunggah foto. Yang lebih menjengkelkan lagi kalau melihat akun teman-teman saya dan orang lain yang biasa-biasa saja, seperti saya juga, tetapi dapat memiliki jumlah like yang banyak sekali.

Teman-teman saya bukan orang terkenal, foto-foto yang disajikan pun, ya… gitu, deh. Tak ada yang istimewa. Seperti saya, mereka juga tak memamerkan keindahan tubuh mereka, baik yang meliuk seperti biola atau badan berotot.
Mereka juga tak mengabadikan wajah mereka yang cantik, yang mungkin berbeda dengan wajah saat mereka dilahirkan, karena kehebatan para dokter dan ahli bedah plastik. Mereka juga tidak menunjukkan kekayaan dan barang-barang mewah yang mereka miliki.
Jadi "influencer"
Saya sampai bertanya kepada beberapa ahli dalam urusan media sosial untuk menaikkan jumlah like. Setelah berbagai usaha yang saya lakukan, jumlah like saya masih segitu-gitu saja, sampai akhirnya saya frustrasi. Di saat frustrasi itu, nurani saya kemudian bersuara nyaring.
"Emang kalau like-nya sejuta terus elo mau apa?" Sejujurnya saya itu ingin punya jumlah like yang banyak; selain buat membanggakan diri, saya juga punya cita-cita jadi influencer. Saya tergiur dengan jumlah pemasukan yang mereka dapatkan. Kalau itu terjadi, saya ingin berhenti bekerja jadi kuli tinta.
Saya mau berhenti melakukan presentasi ke klien-klien yang belum tentu akan mendukung proposal saya. Saya mau menabung, ingin beli rumah kecil di lokasi yang saya impikan, seperti dalam film yang saya tonton.
"Huh? Mau jadi influencer? Emang sana punya apa buat memengaruhi orang lain?" Demikian teriakan nurani saya setelah mendengar penjelasan kalau saya ingin punya jumlah like yang banyak. Kemudian suara nurani itu berkicau lagi. "Kalau elo mau jadi influencer, elo influence aja dulu diri elo sendiri."
Mencintai diri
"Elo mau punya jumlah like yang banyak, buat apa? Orang elo ajah enggak pernah like hidup elo. Elo gak pernah like apa yang elo punyai. Itu kenapa elo bisanya cuma iri. Ya, enggak? Jadi influencer, kok, iri hati. Iri hati itu gambaran kalau elo tu enggak like hidup elo sendiri, tahu."
"Eh… sini gue bilangin. Kalau elo mau jadi orang yang mampu memengaruhi, itu bukan semata-mata karena foto elo bagus, bukan karena badan elo bagus, bukan karena elo kaya raya. Jadi, orang kalau mau memengaruhi itu harus punya hati yang bagus, cara berpikir yang bagus. Buat apa punya jumlah like berjuta-juta, kalau hidup elo sendiri aja enggak elo like."
"Tau enggak, like itu gambaran orang yang mampu bersyukur, bukan gambaran orang yang mampu menaklukan orang lain. Suka goblok, sih, elo." Setelah gendang telinga ini mau pecah rasanya, harus saya akui saya kesetrum dibuatnya.
Seperti biasa, setelah kesetrum baru mulai mikir. Berapa jumlah like yang saya berikan pada hidup saya sendiri? Bukankah sudah berbelas tahun saya curhat di kolom ini bagaimana saya iri terhadap kesuksesan orang lain, terhadap kekayaan mereka, terhadap ketampanan fisik mereka, terhadap kepandaian mereka.
Seperti kata nurani bawel itu, like itu adalah gambaran orang yang bisa bersyukur. Sementara saya ini susah sekali bersyukur untuk apa yang sekarang saya punyai. Saya tak bisa bersyukur melihat jumlah like saya kalah dengan teman dan orang lain yang akun media sosialnya juga enggak ada gregetnya.
Saya terlihat seperti orang yang sangat bersyukur dan mencintai hidup ini, tetapi ternyata tidak sama sekali. Jadi, benar kata nurani bawel itu. Untuk apa saya punya berjuta-juta like yang diberikan oleh netizen dan yang memampukan saya untuk menjadi kaya raya sebagai influencer kalau saya sendiri tak menyukai kehidupan saya?
Bahkan, tak menyukai apa yang saya unggah di media sosial. Saya bahkan tak menyukai apa yang saya promokan dalam akun saya itu. Apa pentingnya kalau orang lain memberi like atas akun saya?
Saya tidak menyukai pasangan saya, saya tidak menyukai untuk menghargai pernikahan saya, saya tak menyukai saudara-saudara saya. Bagaimana saya bercita-cita ingin jadi influencer dengan sebuah fondasi yang sangat jauh dari menyukai?
Mungkin saya tak perlu datang ke ahli media sosial untuk menaikkan jumlah like saya. Mungkin prioritas yang harus saya lakukan adalah berusaha menaikkan jumlah like yang saya buat untuk hidup saya.
Menyukai semua yang ada pada hidup saya, bukan yang tak ada pada saya. Karena like dari netizen yang ditujukan kepada saya bisa pudar, tetapi kalau saya bisa menyukai apa yang ada pada saya, itu akan selamanya ada.
Kompas, 10 Februari 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar