
Saya yakin bahwa Anda, sebagai pembaca setia media kaum menengah ini, pernah melihat "mereka". "Mereka" itu pasti pernah datang ke rumah Anda karena Anda memanggilnya. Ada yang membawa palu, sekop, dan papan kayu. Ada yang mengangkut besi atau sak semen. Namun, meski Anda telah membiarkan "mereka" berlalu-lalang di rumah Anda, saya yakin Anda tidak terlalu peduli apakah "mereka" sudah makan, berapa rupiah "mereka" keluarkan untuk urusan perut, dan di mana "mereka" tidur?
Sebaliknya, saya tidak yakin Anda pernah menawarkan kopi kepada "mereka", apalagi mengizinkan "mereka" memakai kamar mandi Anda. Ya, Anda memang telah melihat "mereka", tetapi Anda tidak sedia mengenal "mereka". Oh, tentunya yang saya maksudkan di sini bukan tetangga Anda, Pak Ano itu, yang Anda "pakai" setiap kali saluran air kotor dapur mampat. Tidak, yang saya maksud di sini adalah buruh dan tukang bangunan biasa. Yang Anda pekerjakan untuk menambah satu tingkat pada rumah kecil Anda atau membuat dapur baru di halaman belakang.
Maafkan saya untuk perkataan saya yang lancang ini: Saya tahu mengapa Anda tidak mengenal "mereka". Karena ada hal-hal yang Anda belum siap untuk Anda ketahui. Lebih "enak" berbicara tentang "kemanusiaan" atau mengutarakan doa tiada habis-habisnya dengan sesama umat daripada merisaukan nasib "mereka", kan? Ya, aneh, tetapi nyata: ada kalanya HAM dan agama justru berperan menutup mata, bukan membukanya. Jangan-jangan saya pun tak beda dengan Anda yang saya sindir ini: Kalaupun tidak menutup mata, melihat kenyataan dengan kacamata kuda.
Ya, Anda tidak mau melihat di mana "mereka" tidur. Meskipun mudah diketahui. Bisa kamar bedeng, pojok kamar tua yang atapnya roboh, bentangan terpal atau tempat serupa yang tak beda nyamannya, uh. Untuk Anda, yang pokok adalah agar "mereka" berada jauh dari mata Anda. Kalaupun tidak jauh, jelas Anda tidak ingin mengetahui tempat di mana "mereka" tidur. Takut dibuat kaget oleh bau pesing tempat kencing di sebelahnya. Tidak mau menjenguk tempat rebahan "mereka": kalau bukan tikar tua, pasti kasur kapuk yang robek. Agar bisa menampung istri kalau datang untuk mencari kerja. Memang begitu! Ya! Bahkan, bisa terjadi tikar itu kerap menyaksikan adegan rangkulan sesaat suami istri yang, tanpa layar TV, hanya mempunyai tubuh untuk bermimpi tentang indahnya masa depan. Berapa banyak anak yang lahir di Indonesia dari rangkulan seperti itu? Saya yakin BPS tidak pernah mencatat.
Namun, jangan mimpi, tidak banyak di antara kaum buruh itu bisa memboyong istrinya. "Mereka" hanyalah penduduk sementara dari kota tempat "mereka" bekerja. Jadi, habis proyek, atau ketika kelewat kangen dengan anak-istrinya, "mereka" pulang saja ke desa, menanti panggilan teman senasib, mandor proyek atau makelar tenaga kerja yang akan mengirim "mereka" lagi entah ke mana di Nusantara, bahkan ke Papua nun di sana.
Apakah "mereka" puas dengan bayarannya? Dari Rp 100.000 gajinya yang "mereka" dapat sehari sebagai tukang atau Rp 80.000 sebagai pembantu tukang, "mereka" konon hanya perlu Rp 15.000 untuk makan. Apakah selebihnya memang simpanan? Namun, bukankah lebih baik daripada nongkrong di desa, pikir Anda?
Ada kalanya mandor lari dengan uang borongan buruhnya. Atau "mereka" datang ke kota di mana dijanjikan kerja, lalu, sesampai di tempat, ternyata kerja itu tidak ada. Lalu, makan apa? Bagaimana pulang ke desa? Lebih parah lagi, kecuali untuk minoritas yang dipekerjakan oleh PT besar, "mereka" tak ada jaminan kesehatan apa pun jika jari tertimpa palu, atau mereka jatuh dari tembok.
Berapa jumlah "mereka" itu? Puluhan ribu di Bali, ratusan ribu di Jakarta, beberapa juta di Indonesia. Anehnya, seperti saya katakan di atas, biarpun "mereka" hadir, tidak pernah dipandang—kecuali pada bulan-bulan ini. Ya! Bisa jadi "mereka" turut memilih pada pemilihan umum, tetapi "mereka" jelas tidak bersuara! Maka, saya berseru: wahai kaum menengah, saya tahu, kau kerap berkoar-koar soal demokrasi; tetapi tahukah kau bahwa tiada demokrasi yang kokoh tanpa keadilan sosial? Siapkah kau membayar lebih baik para buruh yang kau pekerjakan. Siapkah kau membela hak "mereka" atas tempat tidur yang layak dan jaminan sosial yang manis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar