Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 22 Juni 2015

ANALISIS EKONOMI: Akselerasi Bisnis Berbasis Digital (A TONY PRASETIANTONO)

Seiring peningkatan kepemilikan gawai, transaksi bisnis berbasis digital kian marak. Tidak saja industri perbankan yang getol memanfaatkan keandalan teknologi informasi, kini mulai merambah pada aktivitas bisnis yang bisa dianggap "remeh-temeh". Bayangkan, sekarang ada jasa ojek yang bisa dipanggil konsumen melalui aplikasi digital dengan pembayaran nontunai.

Penggunaan teknologi sudah lama diyakini bakal menjadi tren. Pada 2000, Bank Mandiri berupaya mengejar teknologi perbankan yang saat itu dipimpin Bank BCA. Bank Mandiri yang asetnya terbesar di Tanah Air harus menginjeksikan 200 juta dollar AS untuk investasi teknologi. Jumlah ini sangat besar pada 15 tahun silam.

Aksi korporasi ini terbukti benar. Layanan perbankan bisa dipangkas signifikan saat bank menggantungkan transaksinya berbasiskan internet, telepon (short message service banking), dan anjungan tunai mandiri (ATM). Ketiga layanan ini jauh lebih murah daripada layanan kantor cabang yang mengandalkan tenaga kerja. Kini, bank-bank besar mengandalkan layanan berbasis teknologi untuk mencapai efisiensi.

Semua layanan berbasis teknologi itu memangkas biaya. Tenaga kerja manual bisa disederhanakan menjadi layanan digital. Perpindahan dari industri padat karya (labor intensive) menjadi padat teknologi atau padat modal (capital intensive) sudah lama diketahui dalam pembangunan ekonomi. Namun, dulu konteksnya adalah perpindahan tenaga kerja dari sektor tradisional (pertanian) menuju sektor modern (industri).

Kini, konteksnya berubah. Kita tidak lagi berbicara sektor pertanian tradisional yang padat karya. Kita berbicara sektor nonpertanian, yakni sektor industri dan jasa (termasuk di dalamnya sektor perbankan yang sangat modern), yang kini tengah memasuki era digital. Penggunaan teknologi digital yang berkembang cepat menyebabkan sektor modern berkembang lebih cepat, melampaui ekspektasi, imajinasi sebelumnya.

Kini taksi dan ojek pun bisa dipesan dari gawai di genggaman tangan. Sangat mudah, praktis, dan paling penting: lebih murah. Kata efisiensi menjadi mantra terpenting dari semua pergulatan ini. Atas dasar efisiensi, bisnis ini pun bergulir dengan cepat, mengiringi kecepatan kepemilikan gawai.

Pertanyaan kita sekarang, apakah tren ini akan mengubah peta industri? Apakah transaksi bisnis berbasis digital akan menggusur transaksi bisnis konvensional? Selanjutnya, apakah transaksi berbasis digital akan menggusur penggunaan tenaga kerja sehingga tenaga kerja akan diganti dengan teknologi? Bagaimana kita memandang teknologi, apakah menjadi alat pemacu efisiensi atau ancaman bagi kesempatan kerja?

Kehadiran teknologi merupakan keniscayaan yang tak terelakkan. Pada industri perbankan, misalnya, jumlah nasabah bank di Indonesia lebih dari 60 juta orang, yang tersebar di 119 bank umum. Bagaimana mungkin data orang sebanyak itu tidak dikelola dengan bantuan teknologi informasi yang memadai? Dalam kasus ini, teknologi bukan ancaman bagi tenaga kerja. Keduanya saling melengkapi.

Keberadaan teknologi bukanlah ancaman, melainkan justru mempermudah pekerjaan manusia. Karyawan bank di lini terdepan (teller) juga tidak mungkin sanggup melayani permintaan penarikan uang nasabah. Karena itu, ATM menjadi peranti yang amat membantu mengatasi antrean panjang di kantor-kantor cabang.

Namun, bisnis berbasis digital juga memiliki keterbatasan. Kualitas internet dan penyebarannya yang tidak merata di Indonesia menjadi kendala. Bisnis taksi berbasis digital mungkin bisa berkembang di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bali karena kualitas internet dan memenuhi persyaratan skala ekonomis. Namun, di kota-kota lain hal itu belum tentu bisa.

Fenomena praktik aplikasi simpan-pinjam di Amerika Serikat, seperti Lending Club, Zopa, dan Funding Circle, rasanya masih "terlalu canggih" bagi nasabah di Indonesia. Di sini, selain jasa perbankan formal, masyarakat masih menggunakan jasa praktik perbankan nonformal (seperti rentenir) yang menawarkan suku bunga tinggi.

Sementara itu, bisnis pemesanan makanan melalui internet sama sekali bukan ancaman bagi tenaga kerja. Makanan tetap harus diantar oleh manusia dari restoran ke konsumen. Restoran tetap berdiri, tenaga kerja tetap difungsikan, transaksi meningkat lewat bantuan internet.

Dulu ketika ditemukan teknologi home theater danBlu-ray, sempat terpikir fenomena ini akan membuat orang lebih menonton film di rumah daripada pergi ke bioskop. Namun, hal ini bisa diatasi dengan teknologi sinematografi dan bioskop yang kian canggih sehingga menonton di gedung bioskop tetap lebih mengasyikkan.

Kesimpulannya, biarkan bisnis berbasis digital terus berkembang karena hal itu baik dari sisi pencapaian efisiensi. Mungkin ada benarnya bisnis semacam ini sedikit mengganggu bisnis konvensional. Namun, tidak sampai membuat bangkrut secara keseluruhan. Mengenai ancaman terhadap penggunaan tenaga kerja, dengan atau tanpa era digital, tenaga kerja kita memang harus didistribusikan ke sektor industri. Tujuannya, mengurangi fenomena berlebihnya tenaga kerja. Indonesia tetap harus memperkuat kinerja sektor manufaktur yang menjanjikan nilai tambah yang lebih besar.

A TONY PRASETIANTONO, KEPALA PUSAT STUDI EKONOMI DAN KEBIJAKAN PUBLIK UGM

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Juni 2015, di halaman 15 dengan judul "Akselerasi Bisnis Berbasis Digital".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger