Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 22 Juni 2015

TAJUK RENCANA: Perangi Kebencian Rasial Bersama (Kompas)

Presiden AS Barack Obama mengecam penembakan yang dilakukan Dylann Storm Roof di gereja masyarakat kulit hitam di Negara Bagian South Carolina.

Dari Gedung Putih, Washington DC, Jumat (19/6), Obama menyebut tindakan Roof sebagai penembakan yang kejam. Penembakan itu dilakukan Roof, Rabu malam lalu, di Gereja Metodis Episkopal Afrika Emanuel di Charleston, South Carolina, yang terletak 856 kilometer di barat daya Washington DC. Pada malam itu, Roof mendatangi sekelompok orang yang tengah mengadakan pertemuan kajian Alkitab dan bergabung dengan kelompok itu sebagai satu-satunya peserta kulit putih.

Tiba-tiba Roof melepaskan tembakan ke arah orang-orang yang duduk bersamanya. Sembilan orang langsung tewas di tempat, sementara tiga orang lain, termasuk anak berusia lima tahun, selamat tanpa cedera. Tindakan Roof, yang disebutkan sebagai kekejaman yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata itu, dilatarbelakangi oleh kebencian rasial.

Setelah menembak, Roof melarikan diri. Setelah melakukan pengejaran selama 14 jam, polisi menangkap Roof di sebuah kota kecil, 350 kilometer di utara Charleston. Kepala Kepolisian Charleston Greg Mullen mengemukakan, Roof membawa pistol ketika mobilnya dihentikan polisi. Namun, ia menyerahkan diri tanpa perlawanan.

Dari media sosial milik Roof dapat dilihat betapa ia menyimpan kebencian terhadap warga kulit hitam. Ia antara lain berpose memegang Bendera Konfederasi, yang merupakan bendera negara-negara Selatan yang pro perbudakan dalam Perang Saudara 1861-1865, sambil memegang pistol. Negara-negara Selatan dalam perang yang berlangsung lebih dari 150 tahun lalu itu dikalahkan oleh negara-negara Utara yang ingin perbudakan diakhiri.

AS boleh saja memiliki Obama sebagai presiden berkulit hitam yang pertama, tetapi penembakan di Charleston, dan juga beberapa kasus penembakan atau penganiayaan yang dilakukan polisi kulit putih terhadap warga kulit hitam, menunjukkan bahwa benih-benih kebencian rasial terhadap warga kulit hitam itu masih ada.

Dalam kaitan itulah, Obama mengingatkan agar benih-benih kebencian rasial itu harus diperangi bersama. Obama juga menegaskan pentingnya memperketat peredaran senjata api. "Setiap negara memiliki warga negara dengan mental yang tidak stabil, suka kekerasan, ataupun penyebar kebencian. Yang berbeda adalah tidak setiap negara mengizinkan peredaran senjata dengan bebas," ujarnya.

Kita setuju dengan Obama bahwa benih-benih kebencian rasial harus diperangi. Akan tetapi, bukan hanya di AS, melainkan juga di negara-negara lain. Namun, harus diakui bahwa bebasnya peredaran senjata di AS membuat kebencian rasial itu kerap berujung maut.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Juni 2015, di halaman 6 dengan judul "Perangi Kebencian Rasial Bersama".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger