Berada di Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, kompleks kami sangat dekat dengan Terminal Pulogadung yang diresmikan Gubernur Ali Sadikin pada 1977. Kini kondisinya tak rapi, tak nyaman, dan semrawut.
Terminal bus antarkota dan transjakarta berdampingan dengan terminal bus, minibus, dan oplet. Jalan raya Bekasi penuh dengan pedagang kaki lima. Jalan sepanjang 600 meter, mulai dari Pulogadungke kompleks kami, setiap hari dilintasi ratusan ribu kendaraan. Tak ada jembatan penyeberangan, tak ada lampu lalu lintas, tak ada polisi yang bertugas. Kendaraan yang mengisi bensin hilir mudik keluar masuk membuat lalu lintas ruwet dan tak aman. Anak-anak sekolah, ibu-ibu, dan para lansia menunggu angkot atau menyeberang jalan dengan sangat tersiksa. Mereka berjuang keras menghadapi maut.
Apakah Wali Kota Jakarta Timur dan Jakarta Utara bekerja atau sedang tidur pulas, tidak merasakan penderitaan warganya sendiri?
Jalan Perintis Kemerdekaan yang membentang dari Pulogadung sampai Waduk Ria Rio sudah diperlebar, tetapi belum semua dapat digunakan. Gubernur Fauzi Bowo pada Juni 2012 telah membuka Terminal Pulogebang yang baru 80 persen selesai dan merupakan terminal terbesar di Indonesia, tetapi hingga saat ini belum dioperasikan. Sementara Terminal Pulogadung mirip kapal yang sedang karam. Alangkah elok bila Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan meluangkan waktu sebentar, blusukan melihat sendiri kondisi di lapangan yang semrawut dan tidak manusiawi.
ARIFIN PASARIBU, KOMPLEKS PT H II, KELAPA GADING TIMUR, JAKARTA UTARA
Pembatasan di Ancol
Berikut pengalaman kami memasuki Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Pada 18 Juli lalu, mobil kami yang berisi empat orang diarahkan masuk melalui Gate Karnaval (Mal Ancol).
Setelah masuk, ternyata ada pembatasan areal: kami tidak bisa mengunjungi Dufan, Gelanggang Samudra, Pasar Seni, dan lain-lain. Kami hanya bisa parkir di areal Mal Ancol. Kami merasa sangat dirugikan Taman Impian Jaya Ancol.
Kerugian yang kami alami adalah waktu terbuang percuma serta uang berupa tiket masuk empat orang dan satu mobil yang bernilai Rp 120.000. Keluhan sudah kami lakukan via Ancol Customer Care 24 Jam di 29222222 sebanyak tiga kali dan Kompas.com tanggal 27 Juli 2015, tetapi tidak ada tanggapan dari pihak pengelola. Seakan-akan pengelola tidak mau tahu nasib pengunjung Taman Impian Jaya Ancol.
WATTIMENA CHRISTIAN, JALAN LUMBU BARAT VB NO 142, BLOK VIII, RAWALUMBU, BEKASI, JAWA BARAT
BRI tentang
Tukar Uang
Sehubungan dengan keluhan mengenai BRI, "Tolak Tukar Uang", oleh Ibu Margaretha Alva Meifiliana di surat pembaca Kompas (7/7), pada kesempatan ini kami menanggapinya.
Terkait keluhan tersebut, kami telah melakukan kunjungan kepada Ibu Margaretha Alva Meifiliana untuk menyampaikan permohonan maaf sekaligus menjelaskan mekanisme penukaran uang rusak. Ibu Margaretha Alva Meifiliana dapat menerima penjelasan ini dan permasalahan telah terselesaikan dengan baik.
Sebagai bank yang terus berupaya meningkatkan pelayanan terhadap para nasabahnya, BRI senantiasa menampung dan merespons keluhan nasabah demi tercapainya pelayanan yang prima dan konsisten. Apabila terdapat pertanyaan atau saran yang ingin disampaikan, Anda dapat menghubungi kami melalui layanan 24 jam CallBRI 14017/ 500017/021-57987400.
BUDI SATRIA, KEPALA DIVISI SEKRETARIAT PERUSAHAAN PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK
"Karawang"
Masih sering ditemukan penulisan kataKarawang yang salah, baik dalam media cetak maupun dalam media lain. DiKompas (5/8), halaman 40, dalam kolom iklan, tersua penulisan Kerawang, padahal sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan dokumen resmi lainnya, penulisan yang benar adalah Karawang atau Kabupaten Karawang. Untuk itu, ke depan diharapkan tidak ada kesalahan lagi dalam penulisan Karawang.
HANHAN NURDIANSYAH, DESA WARGASETRA, KECAMATAN TEGALWARU, KABUBATEN KARAWANG, JAWA BARAT
Catatan Redaksi
Terima kasih informasi Anda.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Agustus 2015, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar