Skala tragedi itu tecermin dari jumlah korban manusia yang sangat menakutkan. Bom pertama yang dijatuhkan AS, "Little Boy", ke kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945, membunuh langsung 140.000 penduduk kota itu. Sementara itu, bom kedua, "Fat Man", yang dijatuhkan tiga hari kemudian, 9 Agustus 1945, ke kota Nagasaki, pada saat itu juga menewaskan 74.000 dari 240.000 penduduknya. Dari jumlah korban tewas itu, sebanyak 150 orang adalah tentara. Artinya, mayoritas korban adalah penduduk sipil.
Itu berarti, dalam tempo tiga hari, 210.000 orang mati! Jumlah tersebut belum ditambah puluhan ribu lainnya yang terluka. Misalnya, 75.000 penduduk Nagasaki terluka. Ribuan orang lagi yang sakit atau belakangan mati karena radiasi. Dan, entah berapa banyak lagi yang mengalami tekanan psikologis, trauma, dan sebagainya.
Pendek kata, dua bom yang dijatuhkan di kedua kota itu telah menjadi memori yang tak terlupakan sepanjang masa. Inilah bom atom pertama—dan kita berharap menjadi yang terakhir—yang pernah dijatuhkan di atas bumi ini.
Kita menganggap bahwa bom atom yang dijatuhkan terhadap kedua kota tersebut merupakan akibat logis dari perang yang oleh kedua belah pihak dianggap tidak bisa dihindarkan. Sama halnya dengan alasan yang dikemukakan para pemimpin AS pada waktu itu, mengapa mereka mengebom Jepang. Mereka mengatakan, bom yang pada akhirnya mengakhiri Perang Dunia II telah menyelamatkan sekitar sejuta orang AS. Alasan itu diterima begitu saja oleh rakyat AS, sebagai kebenaran.
Padahal, sejarah mencatat, yang mendorong Jepang mengakhiri perang bukan pertama-tama karena pengeboman itu, melainkan karena bergabungnya Uni Soviet dengan sekutu, sekitar 11 jam sebelum Nagasaki dibom. Pada waktu itu, 1,5 juta Tentara Merah masuk wilayah Manchuria yang merupakan negara boneka Jepang. Gerakan militer Soviet itu telah memaksa Jepang untuk menempatkan pasukan pada tiga front sekaligus.
Apa pun alasannya, tragedi kemanusiaan itu sudah terjadi. Horor itu tetap hidup dalam ingatan, tidak hanya membayangi penduduk Hiroshima dan Nagasaki, tetapi juga rakyat Jepang. Bahkan, penduduk dunia ini.
Kita berharap semoga tidak terjadi kesalahan, mengulang lagi kesalahan dengan menjatuhkan bom atau bom jenis lainnya lagi, nuklir misalnya, yang hanya memberikan gambaran bahwa manusia adalah makhluk yang kejam. Kita juga berharap para pemimpin dunia, termasuk para pemimpin PBB, benar-benar menyadari betapa dahsyatnya, betapa mengerikannya menjadi korban bom, apa pun bomnya. Karena itu, dunia yang bebas bom harus benar-benar diwujudkan, tidak sekadar didiskusikan.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Agustus 2015, di halaman 6 dengan judul "Tragedi yang Tak Terlupakan".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar