Serangan yang menewaskan 13 orang dan melukai 9 orang, Kamis (6/8), itu diklaim dilakukan oleh kelompok bersenjata Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Bukan kali ini saja terjadi serangan bom bunuh diri di Saudi. Mei lalu, sebuah masjid Syiah di Al-Qudeeh diserang pengebom bunuh diri. Serangan itu menewaskan 22 orang. Ini merupakan serangan paling mematikan di Arab Saudi sejak lebih dari satu dekade terakhir.
Pada bulan yang sama, sebuah masjid di Dammam menjadi sasaran pengebom bunuh diri yang menewaskan empat orang. November lalu terjadi penembakan dan pembunuhan terhadap delapan orang yang tengah bersembahyang di Desa Al-Ahsa, Arab Saudi bagian timur.
Pemerintah Saudi memang sudah mengambil langkah tegas dan keras. Sebanyak 431 orang yang dicurigai sebagai pendukung NIIS ditangkap. Namun, itu tidak cukup.
Serangkaian serangan mematikan itu merupakan peringatan keras bagi Saudi. Serangan itu juga menjelaskan, pertama, NIIS tidak hanya berada di dekat perbatasan mereka dengan Irak, tetapi sudah masuk ke Saudi. Kedua, NIIS memiliki keberanian luar biasa menembus masuk ke Saudi yang merupakan jantung dunia Arab, pusat Islam.
Serangan itu membenarkan anggapan selama ini bahwa Arab Saudi bukan hanya target bagi NIIS, melainkan juga target utama NIIS, karena berbagai alasan. Keberhasilan serangan—terlepas berapa banyak korban tewas atau luka dari serangan ini—bisa menjadi simbol sangat bernilai, simbol kemenangan bagi gerakan NIIS.
Saudi sendiri mengakui, NIIS lebih berbahaya dibandingkan dengan Al Qaeda. Hal itu karena pertama dan utama, NIIS memiliki ambisi untuk menguasai wilayah, teritori, sedangkan Al Qaeda tidak. Karena itu, serangan ke Saudi bisa dibaca sebagai langkah awal untuk tidak hanya masuk, tetapi juga menaklukkan, atau sekurang-kurangnya menguasai, sebagian wilayah Saudi. Hal itu seperti yang terjadi di Irak dan Suriah. Jika hal itu terjadi, inilah awal bencana bagi negara-negara Arab lain.
Kalau berita yang beredar selama ini benar—ratusan anak muda Saudi yang bergabung dengan NIIS dan lusinan orang Saudi menjadi pengebom bunuh diri NIIS—ini merupakan tugas berat bagi Pemerintah Saudi. Meskipun ini pasti akan mendapat dukungan banyak negara, termasuk AS sebagai sekutunya.
Rangkaian peristiwa berkait dengan NIIS belakangan ini menjelaskan, NIIS tidak bisa dihadapi sendiri-sendiri oleh negara-negara di kawasan itu, tetapi dibutuhkan persatuan dan kesatuan. NIIS harus dihadapi bersama. Kebersamaan itu yang akan menyelamatkan dunia Arab.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Agustus 2015, di halaman 6 dengan judul "Peringatan Keras bagi Saudi".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar