Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 08 Oktober 2015

TAJUK RENCANA: Momentum Penguatan Rupiah (Kompas)

Kombinasi faktor global dan respons positif pasar terhadap paket kebijakan ekonomi dan langkah BI memicu menguatnya IHSG dan rupiah pekan ini.

Rabu (7/10), rupiah di bawah Rp 14.000 per dollar AS. Penguatan tajam juga terjadi pada indeks saham Bursa Efek Indonesia. Persoalannya, akankah ini berlanjut?

Secara umum, faktor utama pemicu penguatan masih faktor eksternal, yakni spekulasi The Fed bakal menunda lagi kenaikan bunga Oktober ini. Dengan indikator ekonomi AS tak sebaik ekspektasi, besar kemungkinan AS belum akan menaikkan bunga hingga akhir 2015. Ini membuat sebagian besar saham dan mata uang dunia menguat. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dan rupiah mencatat penguatan tertinggi di Asia.

Di dalam negeri, penguatan dipicu pula oleh respons positif terhadap paket ekonomi pemerintah dan juga kebijakan BI mendorong pasokan dollar AS di dalam negeri. Pasar tampaknya mulai merespons positif langkah pemerintah dan otoritas moneter untuk membawa ekonomi keluar dari tekanan ketidakpastian global terkait suku bunga AS dan juga pelemahan ekonomi dunia terutama Tiongkok. Di sisi lain, indikator makroekonomi kita juga menunjukkan perbaikan, khususnya inflasi dan neraca transaksi berjalan.

Ke mana arah rupiah jangka pendek? Ada dua kemungkinan. Pertama, dengan kian bisa beradaptasinya investor global terhadap ketidakpastian terkait kebijakan suku bunga AS, ada kemungkinan sebagian besar investor mulai mengambil posisi, dan rupiah bergerak lebih stabil. Kemungkinan kedua, penguatan sifatnya hanya jangka pendek. Kemungkinan melemahnya kembali rupiah bisa terjadi. Selain kenaikan suku bunga AS, tekanan terhadap rupiah bisa muncul dari meningkatnya permintaan dollar AS akhir tahun untuk membayar utang, dividen, atau impor bahan baku. Namun, jangka panjang, stabilisasi dan penguatan rupiah akan terjadi sejalan dengan membaiknya ekonomi Indonesia, ditambah lagi dengan rupiah yang sudah terlalu undervalued dan dollar yangovervalued saat ini.

Akibat ketidakpastian terkait kebijakan suku bunga AS, pasar uang dan nilai tukar mata uang dunia terus bergerak liar tanpa jangkar, dengan rupiah menjadi salah satu mata uang yang mengalami pelemahan paling tajam, melemah sekitar 13 persen tahun ini dan 42 persen lebih sejak 2011.

Dengan faktor global berada di luar kendali kita (given), satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah faktor dalam negeri. Menjaga momentum penguatan rupiah bisa dilakukan antara lain dengan melanjutkan langkah yang sudah ditempuh dalam restrukturisasi ekonomi, termasuk lewat deregulasi dan debirokratisasi ke arah penguatan fondasi ekonomi nasional dan mengamankan pilar utama pertumbuhan ekonomi, baik sisi suplai maupun permintaan.

Langkah jangka menengah-panjang perlu dibarengi langkah jangka pendek yang dampaknya langsung bisa dirasakan, dibarengi sinkronisasi kebijakan pusat-daerah, dan terobosan-terobosan untuk menghilangkan berbagai sumbatan, termasuk dalam penyerapan belanja pemerintah. Jika ini bisa terus dijaga, hal itu bisa memberikan arah, kepastian, dan keyakinan bukan hanya bagi pasar/investor, melainkan juga pelaku usaha dan masyarakat konsumen.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Oktober 2015, di halaman 6 dengan judul "Momentum Penguatan Rupiah".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger