Pertanyaan itulah yang pertama muncul ketika membaca berita Paus mengunjungi penampungan pengungsi di Pulau Lesbos. Ia bertemu dan bahkan makan bersama dengan ribuan pengungsi yang mayoritas dari Suriah, Irak, dan Afganistan. Bahkan, Paus membawa pulang ke Vatikan tiga keluarga—dua dari Damaskus dan satu dari Deir al-Zour—yang berjumlah 12 orang.
Ini bukan yang pertama kali Paus mengunjungi penampungan pengungsi. Pada Juni 2013, tak lama setelah dinobatkan, Paus Fransiskus mengunjungi Pulau Lampedusa untuk bertemu dengan para pengungsi dari Libya. Mereka terdampar di pulau itu karena perahu mereka karam sebelum mencapai daratan Eropa.
Ketika mengunjungi Meksiko, Februari silam, Paus mengunjungi perbatasan Meksiko dan AS, serta bicara tentang imigran. Tentu, ketika itu pesannya diberikan kepada AS, terlebih kepada kandidat presiden Donald Trump yang akan membangun tembok pemisah antara Meksiko dan AS, jika terpilih sebagai presiden.
Di tempat-tempat itu, Paus selalu menegaskan tiga hal, yakni persaudaraan, solidaritas, dan hormat terhadap martabat manusia. Kita mengikuti dari berita-berita yang tersiar, para imigran, para pengungsi, di banyak tempat sudah diperlakukan tidak sebagai saudara, sesama manusia. Mereka diusir-usir, ditolak-tolak di mana-mana, ditampung di tempat-tempat yang kurang manusiawi. Karena itu, menghormati kemanusiaan mereka menjadi sangat penting. Para pengungsi adalah manusia juga. Pesan itu yang hendak dikemukakan Paus, karena itu harus diperlakukan sebagaimana manusia yang bermartabat.
Solider berarti berdiri pada pihak korban ketidakadilan—termasuk ketidakadilan struktural—korban perang dan orang-orang yang disisihkan, dipinggirkan. Sekarang ini, nilai solidaritas semakin mendesak untuk diwujudkan dalam konteks dunia modern; tidak cukup diucapkan, tetapi perlu diwujudnyatakan. Itulah yang dilakukan Paus dengan mengunjungi pusat penampungan para migran dan pengungsi di Pulau Lesbos.
Kembali ke pertanyaan di atas yang menjadi pembuka tulisan singkat ini: mengapa Paus mengunjungi penampungan pengungsi dan membawa pulang tiga keluarga pengungsi? Menerima orang asing dengan lapang dada, tulus hati, adalah pesan utama ajaran Kristiani. Hal itu yang dilakukan Paus.
Dengan demikian, Paus ingin mengingatkan kembali para pemimpin Eropa, negara-negara Eropa—benua yang memiliki akar Kristen—yang berencana menutup pintu mereka bagi para emigran, pengungsi agar membuka hati mereka bagi orang lain yang menderita.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 April 2016, di halaman 6 dengan judul "Paus, Imigran, dan Pengungsi".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar