Kelompok Taliban mengancam bakal menyerang secara besar-besaran musuh di berbagai tempat di Afganistan. Mereka menamai serangan itu "Operasi Omari", sebagai penghormatan kepada Mullah Omar, sang pendiri yang tewasnya diumumkan pada tahun lalu.
Dalam pernyataannya, kelompok Taliban menyampaikan, "Jihad melawan tentara kafir yang agresif adalah kewajiban suci bagi kami untuk menegakkan sistem Islam dan merebut kemerdekaan kami."
Pengumuman itu muncul hanya beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry berkunjung ke Pakistan. Dalam kunjungan itu, Kerry kembali berjanji akan terus mendukung pemerintahan persatuan nasional yang dipimpin Presiden Ashraf Ghani.
Sebenarnya, di tubuh Taliban sendiri sejak pengumuman kematian Mullah Omar terpecah menjadi dua. Beberapa keluarga dekat Mullah Omar, yang mulai menempati posisi strategis di kelompok ini, tidak sejalan dengan pemimpin Taliban yang baru, Mullah Akhtar Mohammad Mansour.
Mullah Muhammad Yaqub, anak Mullah Omar, misalnya, menempati posisi Kepala Komisi Militer di 15 provinsi di Afganistan. Paman Yaqub yang juga saudara Omar, Mullah Abdul Manan, diangkat jadi Kepala Komisi Khotbah dan Bimbingan, yang antara lain bertanggung jawab atas perekrutan anggota. Yaqub dan Manan juga menjadi anggota Dewan Pemimpin, yang terdiri atas 20 anggota.
Dengan serangan musim semi yang diberi nama Operasi Omari, Mullah Mansour ingin melihat kemenangan nyata Taliban di medan tempur. Namun, sebenarnya operasi itu memiliki dua tujuan, yakni ke dalam dan ke luar Taliban.
Sikap keras dan tegas menolak tawaran perundingan damai yang ditunjukkan Mansour belum cukup untuk membuat solid Taliban. Diperlukan upaya lebih nyata bagi Mansour untuk menunjukkan bahwa dirinya memang mampu memimpin Taliban.
Untuk mempercepat rekonsiliasi dan mendekati pola kepemimpinan Mullah Omar yang sangat dihormati di tubuh Taliban, Mullah Mansour membutuhkan kemenangan di medan laga. Kemenangan ini penting tidak saja untuk mendongkrak kredibilitas di dalam ataupun di luar Taliban, tetapi juga di tengah penolakan dari keluarga Mullah Omar.
Kita memiliki pengalaman kurang nyaman terkait dengan negara Afganistan ini. Banyak warga Indonesia yang dituduh teroris, pernah hidup dan berjuang di Afganistan. Namun, kita tidak menginginkan konflik berkepanjangan di Afganistan. Dunia internasional dan Pemerintah Afganistan harus terus melakukan upaya perdamaian melalui jalan perundingan demi alasan kemanusiaan.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 April 2016, di halaman 6 dengan judul "Dua Tujuan Operasi Omari".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar